Tuesday, April 12, 2016

Jaringan Tumbuhan


Jaringan Tumbuhan | Artikel kali ini akan menjelaskan pengertian jaringan, apa itu jaringan, apa itu jaringan tumbuhan, macam macam jaringan tumbuhan, serta berbagai hal yang perlu anda ketahui tentang jaringan tumbuhan.
Pengertian Jaringan dalam Biologi
Jaringan didefinisikan sebagai sekelompok sel yang memiliki fungsi, asal dan struktur yang sama. Jaringan dipelajari secara khusus dalam ilmu histologi. Dalam arti sempit, Pengertian jaringan tumbuhan adalah apabila sel-sel berkumpul pada tumbuhan.
Pengertian jaringan
 kadang dikacaukan oleh pengertian koloni. Pengertian jaringansering dikatakan sebagai kumpulan sel-sel yang masing-masing selnya aktif dalam segala proses hidupnya, yaitu aktif berfotosintesis, aktif mengadakan metabolisme, aktif berkembang biak, dan aktif mengadakan pengambilan zat-zat makanan, sehingga hanya merupakan individu-individu yang mengumpul. Contoh: koloni pada ganggang.
Mengenal Jaringan Tumbuhan Lebih Dekat
Tumbuhan pada awal perkembangannya, semua sel-sel  tumbuhan melakukan pembelahan diri. Akan tetapi, dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut, pembelahan sel tumbuhan menjadi terbatas di bagian khusus dari tumbuhan. Jaringan ini tetap bersifat embrionik dan selalu membelah diri.
Jaringan embrionik tumbuhan disebut meristem. Pembelahan sel pada dasarnya dapat juga berlangsung pada jaringan selain meristem, contohnya pada jaringan korteks batang, namun jumlah pembelahan ini sangat terbatas.
Sel-sel meristem tumbuhan akan  tumbuh dan mengalami spesialisasi secara morfologi dan fisiologi (mengalami diferensiasi) membentuk berbagai macam jaringan dan tidak mempunyai kemampuan untuk membelah diri. Jaringan ini disebut jaringan dewasa. Jaringan dewasa penyusun organ tumbuhan tingkat tinggi antara lain sebagai berikut:
  • Jaringan Pelindung (epidermis)
  • Jaringan dasar (parenkim)
  • Jaringan Penguat (penyokong)
  • Jaringan pengangkut (vaskuler)
  • Jaringan Sekretoris
A. Jaringan Embrionik (Meristem) Tumbuhan
Seperti telah dijelaskan bahwa jaringan meristem terdiri dari sekelompok sel yang tetap dalam fase pembelahan. Sel meristem mempunyai sifat sifat sebagai berikut.
  • Terdiri dan sel-sel muda dalam fase pembelahan dan pertumbuhan.
  • Biasanva tidak ditemukan adanya ruang antarsel di antara sel-sel meristem.
  • Sel-selnya mungkin berbentuk bulat, lonjong, atau poligonal dengan dinding sel yang tipis.
  • Masing-masing sel mengandung banyak sitoplasma dan mengandung satu atau lebih inti sel.
  • Vakuola sel sangat kecil atau mungkin tidak ada.
Jaringan Meristem tumbuhan dikelompokkan berdasarkan berbagai  kriteria yaitu posisinya dalam tubuh tumbuhan, asal-usulnya, jaringan tumbuhan yang dihasilkannya, strukturnya, taraf perkembangannya, dan fungsinya. Berdasarkan posisinya dalam tubuh tumbuhan, jaringan meristem dibedakan menjadi:
  • meristern apikal: terdapat di ujung pucuk utama dan pucuk lateral serta ujung akar,
  • meristem interkalar: terdapat di antara jaringan dewasa, contohnya meristem pada pangkal ruas tumbuhan anggota suku rumput rumputan.
  • meristem lateral: terletak sejajar dengan permukaan organ tempat ditemukannya, contohnya kambium dan kambium gabus (felogen).
Berdasarkan asal-usulnya, meristem dikelompokkan menjadi:
  • Meristem primer: Apabila  sel sel nya berkembang langsung dari sel-sel embrionik (meristem apikal),
  • meristem sekunder: apabila sel-selnya berkembang dan jaringan dewasa yang sudah mengalami deferensiasi. Contohnya kambium dan kambium gabus (felogen).
Jaringan Meristem primer berasal dan sel-sel initial yang disebut promeristem, yang berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Haberlandr akan berkembang menjadi protoderm, prokambium, dan merisrem dasar. Protoderm akan berdeferensiasi menjadi jaringan epidermis, prokambium akan berdeferensiasi menjadi sistem jaringan pengangkut, sedangkan meristem dasar akan berkembang menjadi parenkim (jaringan dasar). Hanstein membagi ujung akar menjadi tiga daerah, yaitu a) dermatogen, akan berkembang menjadi epidermis; b) periblem, akan berkembang menjadi korteks; dan c) plerom akan berkembang menjadi stele.
Sementara, Schmidt membagi ujung batang menjadi dua bagian yaitu korpus dan tunika. Korpus merupakan bagian pusat dan titik tumbuh. Daerah ini mempunyai area yang luas dan sel-selnya relatif besar. Sel-sel daerah korpus ini akan membelah secara tak beraturan. Tunika merupakan bagian paling luar dan titik tumbuh, terdiri dari satu atau beberapa lapis sel, dengan sel-sel yang relatif lebih kecil dan mengalami pembelahan ke samping (ke arah lateral).
Jaringan Tumbuhan dan Macam macam Jaringan pada Tumbuhan
Posisi jaringan meristem pada batang tumbuhan (Pandey, 1982)

Jaringan Meristem sekunder tumbuhan berasal dan sel-sel dewasa yang berubah keadaannya menjadi meristematik. Sel-sel meristem sekunder tumbuhan memiliki bentuk pipih atau prisma yang di bagian tengahnya terdapat vakuola yang besar. Contohnya adalah kambium dan kambium gabus.
Kambium dapat anda temukan di dalam batang dan akar dari tumbuhan golongan Dicotyledoneae dan Gymnospemae serta beberapa tumbuhan dari golongan Monocotyledonae (Agave, Aloe, Jucca dan Draceana), sedangkan kambium gabus terdapat pada kulit batang tumbuhan dan dapat membentuk jaringan gabus yang sukar ataupun tidak dapat dilalui air. Sel-sel gabus umumnya bersifat mati.

Penampang longitudinal meristem apikal (Esau, 1972)
B. Jaringan Dewasa Pada Tumbuhan
Sifat sifat jaringan dewasa pada tumbuhan adalah sebagai berikut:
  • Tidak terjadi aktivitas membelahan diri
  • Memiliki ukuran yang cukup besar dibandingkan sel sel meristem
  • Mempunyai vakuola yang besar sehingga plasma sel sedikit dan merupakan selaput yang menempel pada dinding sel
  • Kadang kadang selnya telah mati
  • Selnya telah mengalami penebalan dinding sesuai dengan fungsinya
  • Di antara sel selnya dijumpai ruang antarsel.
Terbentuknya ruang antar sel pada tumbuhan tingkat tinggi  dapat diakibatkan oleh:
  1. Sisogen, yaitu sel sel saling memenuhi sehingga terbentuk ruang diantaranya, terjadi pada sel tangkai daun teratai (Nymphaea).
  2. Lisigen, yaitu ruang antar sel yang terbentuk karena sel beserta isinya larut. Dapat anda temukan pada ruang minyak daun jeruk (Citrus sp).
  3. Sisolisigen, apabila ruang yang terjadi berasal dari larutnya sel tertentu diikuti oleh saling menjauhi sel sel disekitarnya, misalnya ruang antar protoxilem.
  4. Reksigen yaitu ruang antar sel yang terbentu karena sel sel mengalami robekan disebabkan oleh pertumbuhan yang menarik sel tersebut. Dapat anda lihat pada berkat pengangkut batang jagung (Zea mays).
Menurut asal meristem, jaringan dewasa pada tumbuhan ada dua macam yaitu jaringan primer dan jaringan sekunder. Jaringan meristem primer apabila sel sel nya berasal dari meristem primer dan jaringan sekunder apabila sel sel nya berasal dari meristem sekunder.
C. Jaringan Pelindung (Epidermis) pada Tumbuhan
Jaringan epidermis adalah jaringan tumbuhan yang merupakan lapisan sel yang berada paling luar, pada permukaan organ-organ tumbuhan primer seperti akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Jaringan ini berfungsi melindungi bagian dalam tumbuhan dari segala pengaruh luar yang akan merugikan pertumbuhannya sehingga jaringan epidermis sering disebut jaringan pelindung.
Epidermis pada tumbuhan biasanya terdiri dari satu lapis sel yang tersusun rapat tanpa adanya ruang antarsel. Pada beberapa jenis tumbuhan, epidermis terdiri atas beberapa lapis sel. Hal ini disebabkan karena sel-sel protoderm membelah berkali-kali secara periklinal (sejajar permukaan) sehingga terjadi epidermis berlapis banyak. Contoh sel-sel epidermis velamen pada akar anggrek.
Sel-sel epidermis mempuyai bentuk yang bervariasi, misalnya epidermis berbentuk tubular dapat dijumpai pada helalan daun dikotil dan berbentuk memanjang dijumpai pada helaian daun Monokotil Pada helaian daun Aloe cristata sel epidermis berbentuk heksagonal- Sel-sel epidermis memiliki protoplas hidup dan dapat menyimpan berbagai hasil
metabolisme. Sel-sel inisial epidermis sebagian dapat berkembang menjadi alat-alat tambahan yang sering disebut derivat epidermis, seperti stoma, trikoma, sel kipas. sistolit, sel silika, dan sel gabus.
Jaringan tumbuhan dan macam macam jaringan pada tumbuhan 5
Stomata pada daun tembakau (Nicotiana tabacum) (Esau, 1972),
salah satu derivat jaringan epidermis pada tumbuhan
D. Jaringan Dasar / Parenkim Tumbuhan
Jaringan parenkim adalah jaringan tumbuhan yang terbentuk dari kumpulan sel yang hidup. Jaringan parenkim memiliki struktur serta fisiologis yang bermacam macam. Jaringan parenkim masih melakukan segala kegiatan proses fisiologis, hal ini berbeda dengan jaringan tumbuhan yang lain khususnya jaringan yang dewasa (tua).
Jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar tumbuhan karena dijumpai hampir di setiap bagian tumbuhan. Contohnya pada batang dan akar parenkim ditemukan diantara  jaringan epidermis dan pembuluh angkut, sebagai korteks. Parenkim dapat pula ditemukan sebagai empulur batang.
Jaringan parenkim pada daun tumbuhan membentuk mesofil daun yang kadang berdeferensiasi menjadi jaringan tiang (palisade) dan jaringan bunga karang (sponge). Jaringan parenkim dapat juga dijumpai sebagai parenkim penyimpan cadangan makanan pada buah dan biji.


Berdasarkan fungsinya, jaringan parenkim pada tumbuhan dibedakan menjadi 5 macam yaitu:
  1. Jaringan Parenkim air. Jaringan ini dijumpai pada tumbuhan xerofit atau epifit sebagai penimbun air untuk melewati musim kering.
  2. Jaringan Parenkim asimilasi. Jaringan parenkim ini berfungsi dalam proses pembuatan makanan, terletak pada bagian tumbuhan yang berwarna hijau.
  3. Jaringan Parenkim udara. Jaringan ini berfungsi dalam mengapungkan tumbuhan. Jaringan parenkin ini dapat ditemukan pada tangkai daun Canna sp. sebagai tempat menyimpan udara.
  4. Jaringan Parenkim penimbun. Jaringan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Jaringan parenkim jenis ini dapat anda temukan pada akar rimpang, empulur batang, umbi, dan umbi lapis. Cadangan makanan dalam jaringan parenkim ini disimpan dalam bentuk gula, tepung, protein, dan lemak.
  5. Jaringan Parenkim angkut. Jaringan in berfungsi sebagai pembuluh angkut baik itu makanan maupun air. Hal ini terjadi karena sel selnya memanjang menurut arah pengangkutan.
Jaringan parenkim tumbuhan dapat juga dibedakan berdasarkan bentuknya. Berikut pembagiannya:
  1. Jaringan parenkim palisade. Merupakan jaringan yang menyusun mesofil pada daun. Jaringan parenkim ini dapat juga ditemukan pada biji dengan bentu sel panjang, tegak dan mengandung banyak kloroplas.
  2. Jaringan Parenkim lipatan. Jaringan ini dijumpai pada mesofil daun pinus dan padi. Terjadi perlipatan ke arah dalam pada bagian dinding sel dan mengandung banyak kloroplas.
  3. Jaringan parenkim bunga karang. Jaringan ini menyusun mesofil daun dan ukurannya tidak beraturan serta ruang antar ser yang lebar.
  4. Jaringan parenkim bintang (aktinenkim). Jaringan ini dapat ditemukan pada tangkai daun Canna sp. dengan bentuk seperti bintang bersambungan pada bagian ujung.
E. Jaringan Penguat (Mekanik) Tumbuhan
Jaringan Penguat tumbuhan berfungsi dalam memberikan kekuatan bagi tubuh tumbuhan sehingga mampu berdiri tegak. Jaringan penguat tumbuhan dibagi atas dua berdasarkan sifat dan bentuknya yaitu jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim.
1. Jaringan Kolenkim Tumbuhan
Kolenkim adalah jaringan tumbuhan yang berfungsi sebagai jaringan penguat terutama pada organ organ tumbuhan yang masih aktif membelah dan tumbuh serta berkembang.Jaringan kolenkim tersusun atas sel sel yang masih hidup.
Jaringan kolenkim tumbuhan memiliki bentuk sel yang sedikit memanjang, dan hanya memiliki dinding primer dengan penebalan yang tidak teratur yang lunak serta lentur. Hal ini disebabkan karena jaringan kolenkim tumbuhan tidak mengandung lignin melainkan kloroplas dan tanin.
Jaringan  kolenkim tumbuhan dapat dijumpai ada batang, daun, bunga dan buah. Jaringan tumbuhan ini dapat juga dijumpai pada akar yang terkena matahari. Jaringan kolenkim pada tumbuhan monokotil (monocotyledoneae) tidak ditemukan jaringan kolenkim apabila telah terjadi pembentukan sklerenkim sejak tumbuhan masih muda.
Jaringan kolenkim tumbuhan terbagi atas 4 menurut penebalan dinding selnya yaitu kolenkim anguler, kolenkim lameler, kolenkim tubular, dan kolenkim tipe cincin.
2. Jaringan Sklerenkim Tumbuhan
Sklerenkim adalah jaringan penguat tumbuhan yang memiliki dinding sekunder yang tebal, dan mengandung zat lignin. Jaringan sklerenkim pada tumbuhan memiliki sel sel yang kenyal dan tidak mengandung protoplas. Dengan kata lain, jaringan sklerenkimtersusun atas sel sel yang telah mati dengan dinding sel yang tebal. Hal ini membuat mudah untuk menemukan jaringan sklerenkim yaitu pada bagian tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan.
Jaringan sklerenkim terbagi atas dua yaitu serabut dan sklereid (sel sel batu).
F. Jaringan Pengangkut
Jaringan pengangkut pada tumbuhan ada dua yaitu floem dan xilem. Floem terdiri atas buluh tapisan, sel penggiring dan parenkim floem. Jaringan pengangkut tipe xilem  yaitu trakea dan trakeida serta serabut dan parenkim xilem.
Xilem berfungsi dalam mengangkut mineral dan air dari akar hingga daun. Floem berfungsi mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke bagian organ yang lain seperti batang, akar dan umbi.

1. Xilem
Xilem adalah jaringan pengangkut tumbuhan yang kompleks terdiri dari berbagai macam bentuk sel. Pada umumnya sel-sel penyusun xilem telah mati dengan dinding yang sangat tebal tersusun dari  zat lignin sehingga xilem berfungsi juga sebagai jaringan penguat. Unsur-unsur xilem terdiri dari unsur trakeal, serat xilem, dan parenkim xilem.
a. Unsur trakeal 
Unsur trakeal  merupakan unsur yang memiliki fungsi dalam pengangkutan air beserta zat terlarut di dalamnya, dengan sel-sel yang memanjang, tidak mengandung protoplas (bersifat mati), dinding sel berlignin, mempunyai macam-macam noktah. Unsur trakeal terdiri dari dua macam sel yaitu trakea dan trakeida.
Trakea (pembuluh kayu) terdiri dari sel yang tersusun memanjang dan berderet dengan ujung yang berlubang dan bersambungan pada ujung dan pangkalnya, sedangkan trakeida terdiri atas sel panjang dengan ujung yang runcing tanpa adanya lubang sehingga pengangkutan melalui pasangan noktah pada dua ujung trakeida yang saling menimpa.
Lubang perforasi adalah bagian trakea yang berlubang. Pada tumbuhan dikenal tiga macam lempeng perforasi, yaitu lempeng perforasi sederhana dengan sebuah lubang  yang memenuhi seluruh dinding ujung sel yang ditempati,lempeng perforasi skalariform dengan lubang pipih dan sejajar lempeng sehingga menunjukkan bentuk tangga, lempeng perforasi jala dengan jalinan lubang membentuk jala. Lempeng majemuk adalah nama lain untuk lempeng perforasi skalariform dan jala.
b. Serat xilem 
Serat xilem merupakan sel panjang dengan dinding sekunder berlignin. Serat xilem ada dua pada tumbuhan, yakni serat libriform dan serat trakeid. Serat libriform mempunyai ukuran lebih panjang dan dinding selnya lebih tebal dibanding serat trakeid. Pada serat libriform dapat anda temukan noktah sederhana, sedangkan serat trakeid dapat anda temukan noktah terlindung.
c. Parenkim xilem  
Parenkim xilem tumbuhan umumnya tersusun dari sel-sel yang masih hidup. Parenkim xilem dapat anda jumpai pada xilem primer dan xilem sekunder. Pada xilem sekunder dijumpai dua macam parenkim, yaitu parenkim kayu dan parenkim jari jari empulur.
Parenkim kayu sel-selnya dibentuk oleh sel-sel pembentuk fusi unsur unsur  trakea yang sering mengalami penebalan sekunder pada dindingnya. Pada parenkim kayu sering ditemukan adanya noktah berhalaman dan noktah biasa.
Sel-sel parenkim xilem pada tumbuhan berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Pada saat giatnya pertumbuhan, zat tepung tertimbun pada parenkim xilem dan menurun pada saat terjadinya aktivitas kambium. Parenkim jari jari empulur tersusun dari sel-sel yang pada umumnya mempunyai dua bentuk dasar, yakni sel-sel yang bersumbu panjang ke arah vertikal dan radial.



2. Floem
Floem adalah jaringan pengangkut pada tumbuhan yang memiliki fungsi mengangkut dan menghantarkan zat-zat makanan hasil fotosintesis dan daun ke bagian tumbuhan yang lain. Floem tersusun dari berbagai macam bentuk sel-sel yang bersifat hidup dan mati. Unsur-unsur floem terdiri atas unsur tapis, sel albumin, parenkim floem, sel pengiring dan serat-serat floem.



G. Jaringan Idioblas Tumbuhan
Idioblas adalah jaringan pada tumbuhan yang terdiri atas sel sel yang memiliki fungsi yang berbeda dengan sel disekitarnya. Jaringan idioblas dapat berupa kelenjar ataupun alat sekresi dalam jaringan makanan.
1. Kelenjar
Kelenjar adalah jaringan yang tersusun atas sekumpulan sel sel yang menghasilkan suatu zat. Zat tersebut dikeluarkan oleh sel penghasilnya. Ada beberapa macam sel kelenjar pada tumbuhan yaitu :1) kelenjar epitel dan 2) kelenjar epitel.
Kelenjar epitel adalah sel sel yang berdampingan satu dengan yang lainnya sehingga adalah suatu lapisan sel. Kelenjar rambut adalah sekumpulan sel yang menghasilkan zat yang ditemukan pada permukaan epidermis. Kelenjar ini disebut koleter dan menghasilkan zat yang disebut blastokola.
Salah satu contoh kelenjar adalah nektaria yang ditemukan pada bunga yang menghasilkan nektar yang berfungsi dalam menarik serangga dalam proses penyerbukan.


2. Alat sekresi
Alat sekresi adalah sel atau sekumpulan sel yang memiliki fungsi menghasilkan zat zat tertentu, akan tetapi tidak dikeluarkan oleh sel sel yang menghasilkan zat tersebut.
Anda dapat menemukan beberapa macam jenis jaringan ini pada tumbuhan seperti saluran getah, sel-sel resin dan minyak, sel-sel lendir, kumpulan sel mirosin, dan sel-sel penyamak.
Saluran getah adalah kumpulan sel yang berisi cairan berwarna putih yang disebut lateks. Ada dua macam saluran ini yaitu buluh getah dan sel getah. Anda dapat menemukan saluran getah tipe buluh getah pada tumbuhan Compositae, Campanulaceae, Papilionaceae, Caricaceae, Euphobiaceae, Convolvulaceae, Labiateae, dan Musaceae. Sel getah dapat anda temukan pada tumbuhan Apocynaceae, Urticulaceae, Moraceae dan Euphorbiaceae.


Pengertian hortikultura


Berasal darikata bahasa latin hortus yang berarti kebun dan corela yang berarti menumbuhkan , para pakar mendefinisikan  hortiikultur adalah ilmu yang mempelajari pembudidayaan tanaman sayur , buah- buahan , bunga, atau tanaman hias, tumbuhan herbal dan landscape .
Berdasarkan jenis komuditasnya cabang-cabang  hortikultura  sebagai berikut:
1.       Oleiriculture, ilmu yang mempelajari  tentang sayuran
2.       Pomology,ilmu yang mempelajari  tentang budidaya tanaman buah – buahan
3.       Floriculture,ilmu yang mempelajari budidaya tanaman hias
4.       Landscape, ilmu yang mempelajaripemanfaatan tanaman hias dalam penataan lingkungn
5.       Apiary(apikultura),ilmu yang mempelajari budidaya lebah madu
Namun demikian ,pengelompokan di atas tidak bersifat kaku. Banyak diantaranya tanaman yang juga memiliki manfaat ganda seperti  komuditas buah- buahan , saat ini telah banyak berkembang buah – buahan yang juga di fungsikan sebagai tanaman hias, yaitu dengan perbanyakan vegetatif tumbuhan yang di lakukan dengan berbagai cara seperti cangkok  dan okulasi sehingga tanama menjadi lebih pendek /kerdil tapi memiliki kualitas unggulan dan bisa di manfaatkan sebagai  tanaman hias pula.
Beberapa teknologi yang berkembang dan mendukung industri  tanaman hortikultura:
1.       Zat pengatur tumbuhan (hormon) tanaman . manfaat dari senyawa ini adalah untuk penjarangna bunga/buah, pembentukan tanaman , mendorong pembungaan dan pematangan buah yang seragam dan serempak.
2.       Pemuliaan tanaman. Dengan teknik persilangan dapat di peroleh hasil produksi unggul sepertihalnya semangka tanpa biji(pertenokarpi).
3.       Perbanyakan tanaman konvensional . teknik penyambungan (grafting) untukmendapatkan vigor yang lebih baik dan daya adaptasi dengan kondisi tanah
Rumusan kebijakan pengembangan hortikultura:
1.       Pengembangan komuditas unggulan ,yang mengacu pada pangsa pasar,keunggulan kompetitif,nilai ekonomi ,wilayah produksi dan kesesuaian agro ekoteknologi.
2.       Pengembangan kawasan dan sentra produksi , yang di dasarkan yang di sesuaikan pada sumber daya lahan dan agro klimat.




laporan penggunaan pestisida pada hama

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Penggunaan pestisida belakangan ini mulai menunjukkan kenaikan yang signifikan , akibatnya banyak dari penngunaan pestisida yang menyebabkan kerusakan pada tanaman dan juga mengganggu ekosistem yang ada di lingkungan. Maka dari itu perlu di ketahui bahwa memilih pestisida yang baik dan tidak menimbulkan efek samping sangat dianjurkan. Untuk meminimalisir kerusakan maka dapat menggunakan perangkap hama yang  terbuat dari bahan yang dapat mengurangi populasi hama tapi tidak merusak ekosistem.
Perangkap adalah tempat atau akat yang digunakan untuk menangkap hama yang diberi umpan. Pengendalia hama terpadu merupakan pengendalian dengan cara meminimalisir penggunaan pestisida kimia. Pengendalian hama yang ramah lingkungan dapat dikendalikan dengan pengendalian fisik dan mekanik. Salah satu pengendalian fisik dapat dilakukan dengan cara penggunaan lampu perangkap, sedangkan pengendalian mekanik dapat dilakukan dengan memasang perangkap yang diberi zat-zat kimia yang dapat menarik atau melekatkan maupun yang membunuh hama. Umumnya serangga tertarik dengan cahaya, warna, aroma makanan atau bau tertentu. Serangga tentu juga lebih tertarik terhadap warna. Warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti kuning cerah.


1.2  Tujuan
1.      Mengetahui banyakknya hama pada lahan tomat
2.      Mengetahui warna yang di sukai oleh serangga hama
3.      mengetahui mekanisme kerja Perangkap Metilat maupun Petrogenol.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hama tanaman yang menyerang berbagai komodits umumnya berupa serangga.sifat khas serangga umumnya tertarik kepada cahaya, maka cahaya tersebut sering di gunakan untuk menangkap serangga. Maksud penangkapan serangga yaitu untuk memonitor keadaan serangga di suatu daerah pertanaman, khususnya daerah yang berperan sebagai hama tanman. Namun selain memonitor hama juga dapat di gunakan untuk memonitor musuh- musuh alami hama tersebut. Junis perangkap hama lainnya yang juga sering di gunakan di pertanaman khususnya tanaman sayur-sayuran adalah water trap, stieky trap, dan yellow trap.
Water trap dan stieky trap biasanya menggunakan sexoheromone sebagai traecent dari serangga, sedangakan yellow trap menarik serangga yang menyenangi warna kuning misalnya ham Myzus persicae pada kentang dan kubis.
Metil eugenol merupakan zat yang bersifat volatile atau menguap dan melepaskan aroma wangi. Metil eugenol adalah turunan dari eugenol. Eugenol memiliki nama lain yaitu: 2-metoksi-4-(propenil) fenol, 4-allil-2-metoksi-fenol,alliguakol, asam eugenat, asam kariofilat. Rumus molekul metil eugenol adalah C6H12O2 dengan bobot molekul 164,20, atom C 73,14%; H 7,37%; O 19,49% terdapat dalam berbagai bahan alami baik pada ekstrak daun dan bunga selasih (Tan 2006).
 Sifat fisik dari metil eugenol yaitu cairan yang berwarna kuning muda atau tidak berwarna, akan menjadi gelap jika lama terkena udara (oksidasi). Berbau seperti cengkeh dan rasanya tajam eugenol termasuk senyawa terpen. Terpen merupakan molekul paling lemah dan mudah menguap. Tingkah laku serangga seperti mencari makanan, meletakkan telur, dan berhubungan seksual dikendalikan dan dirangsang oleh bahan kimia yang dikenal sebagai semiocemicals. Salah satu dari semiocemicals yang dapat merangsang alats ensdorik (olfactory) serangga adalah metil eugenol yang merupakan attractan lalat buah.
 Pengguaan attractantdengan menggunakan bahan metal eugenol merupakan pengendali yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif (Kardinan 2003). Metil eugenol merupakanfood lure atau bahan makanan yang dibutuhkan oleh lalat buah jantan untuk dikonsumsi. Jika mencium aroma metal eugenol, lalat buah berusaha untuk mencari sumber aroma tersebut dan memakannya. Radius attractant dari metal eugenol ini mencapai 20-100 m, tetapi jika dibantu angin, jangkauan dapat mencapai 3 km (Kardinan 2003). Dalam tubuh lalat buah jantan, metil eugenol diproses menjadi zat pemikat yang berguna dalam proses perkawinan. Dalam proses perkawinan tersebut, lalat buah betina memilih lalat buah jantan yang telah mengkonsumsi metil eugenol karena lalat buah jantan tersebut mampu mengeluarkan aroma yang berfungsi sebagai sex pheromone (daya pikat seksual) (Kardinan 2003). Hasil metabolis ini disimpan rectal gland kemudian dilepaskan pada waktu kawin pada sore hari sebagai komponen sex pheromone (Tan 2006). Sex pheromone tidak selalu dihasilkan oleh serangga betina. Pheromone bukan menghasilkan respon terhadap seks saja, tetapi juga menghasilkan senyawa-senyawa lainnya.

.






















BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan                                           
            Alat :                                      
1.      Cutter
2.      Staples
3.      Tang
4.      Kuas
Bahan :
1.      Metilat
2.      Petrogenol
3.      Mika warna
4.      Kapas
5.      Kawat
6.      Botol aqua
7.      Solasi
8.      Benang wol
9.      Lidi
3.2 Cara kerja
1.      Untuk pemasangan Petrogenol
a.       Ambil botol aqua  buat lubang pada tutup botol dan lubangi dengan berbentuk bagian tengah botol
b.      pasang tali kawat pengikat di tengah tutup botol yang sudah dilubangi.  Hingga perangkap nanti mudah digantungkan. Pada ujung yang nantinya terletak di dalam botol buat kaitan untuk tempat kapas yang sudah dicelupkan pada larutan Petrogenol.
c.       Botol kemudian diisi dengan air beberapa centimeter  kemudian digantung pada area kerja penangkapan


2.      Untuk pemasangan Metilat
a.       Ambil botol aqua, buat lubang pada tutup botol yang berfungsi sebagai pengantung perangkap.
b.      Lapisi botol aqua menggunakan  mika (kuning, biru, hijau) jika sudah tempelkan mika pada botol menggunakan solasi atau memakai staples.
c.       Jika sudah ikat lagi mika pada bagian atas menggunakan benang wol aga tidak lepas. Kemudian lapisi kembali ika menggunakan cairan Metilat menggunakan kuas.
Lalu  pasang ke dua perangkap tersebut pada lahan yang ingin dipasan
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1         Hasil

A.    Lahan                       : Tanaman Tomat
Nama Perangkap     : Perangkap Metilat
Hari
Metilat
Warna & Jumlah Hama
(Kuning)
Warna & Jumlah Hama
(Hijau)
Warna & Jumlah Hama
(Biru)
1
8 (Lalat Buah)
8 (Lalat Buah)
Lalat buah (3)
2
10 ( Lalat Buah )
2 ( Kutu putih )
        3 ( Tom cat )
 5 ( Kumbang hitam )
1 ( Lalat buah )

2 ( lalat buah )
3
3 ( Lalat buah )
3 ( Kutu putih )

 4 ( Kumbang hitam )
4
2 (Ladybug)
17 ( Kutu putih )
3 ( Lalat buah )
1 ( Tom Cat )
1 ( Nyamuk )
Binatang –binatang kecil
1 ( Kumbang )
 7 ( Lalat Buah )
1 ( Nyamuk )
4 ( Kutu Putih )

1 ( Tom cat )
2 ( Kumbang )
Kutu
5
3( Tom Cat )
 ( Lalat buah )
5 ( Kumbang )
3 ( Lalat buah )
3 ( Lalat Buah )
6
Lalat buah mata hijau
5 ( Lalat buah )
1 ( Tom cat )
2 ( Kumbang )
Kutu
Kumbang hitam

B.     Lahan                       : Tanaman Tomat
Nama Perangkap     : Perangkap Petrogenol
Hari
Petrogenol
Jumlah Hama
1
8 ( Lalat buah )
2
      5 ( Lalat buah )
3
4 ( Lalat buah )
4
7 ( Lalat buah )
5
3( Lalat buah)
6
10 ( Lalat buah )

4.1 Pembahasan
Pemasangan perangkap color trap tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Agar tingkat keberhasilannya tinggi dalam menjebak serangga hama, maka pemasangan harus dilakukan sesuai dengan cara dan prosedur yang tepat. Menurut Sinubulan dkk., (2013), ketinggian perangkap dapat mempengaruhi jumlah hama yang terperangkap, dimana pada ketinggian 10 cm lebih banyak hama yang terperangkap. Hal tersebut karena lalat pengorok daun menyerang pada saat tinggi tanaman sekitar 10 – 15 cm. Hal tersebut membuktikan bahwa tinggi pemasangan perangkap berpengaruh nyata terhadap efektifitas penangkapan hama. Semakin menjauhi kanopi maka semakin sedikit hama yang terperangkap. Begitu pula sebaliknya, semakin mendekati kanopi maka semakin efisien menangkap hama.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam pemasangan perangkap warna yakni pemilihan warna itu sendiri. Sihombing dkk., (2013) berpendapat bahwa serangga dapat membedakan warna-warna karena adanya perbedaan sel-sel retina pada serangga, kisaran panjang gelombang yang dapat diterima serangga adalah sekitar 2540 – 6000 nm. Perangkap dengan warna kuning lebih kontras dan mengkilap, sehingga serangga lebih mudah tertarik dibandingkan dengan jenis perangkap warna lainnya. Hal tersebut karena warna kuning memiliki panjang gelombang 610 nm, warna hijau memiliki panjang gelombang 510 nm dan warna biru memiliki panjang gelombang 460 nm.
Pada perangkap petrogenol, yang lebih mendominasi terjerat adalah lalat buah karena memiliki Mekanisme kerja perangkap Petrogenol yaitu memancing lalat buah masuk ke dalam perangkap dengan menggunakan Petrogenol yang ditempatkan di dalam botol perangkap. Di dasar botol perangkap bisa diisi air sehingga sayap lalat buah akan lengket jika menyentuh air tersebut dan akhirnya lalat buah akan mati tenggelam. Petrogenol ini mengeluarkan aroma wangi yang dibutuhkan lalat buah jantan, sehingga lalat buah jantan dari jarak 20 - 10 m akan teratrik masuk perangkap. jika lalat buah jantannya terperangkap, artinya populasi lalat buah bisa diminimallisir karena lalat betina tidak ada yang membuahi.










BAB V
 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum kali ini diketahui bahwa lahan buah tomat terdapat banyak hama yang menyerang seperti halnya lalat buah, untuk mengatasinya maka di dilakukan pemasangan perangkap yaitu perangkap metilet dengan mengandalkan warna, seperti warna kuning hijau dan biru. Diketahui bahwa warna yang paling dominan terperangkapnya serangga hama adalah warna kuning dan hijau.
Mekanisme kerja perangkap Petrogenol adalah memancing lalat buah masuk ke dalam perangkap dengan menggunakan Petrogenol yang ditempatkan di dalam botol perangkap. Di dasar botol perangkap bisa diisi air sehingga sayap lalat buah akan lengket jika menyentuh air. Petrogenol ini mengeluarkan aroma wangi yang dibutuhkan lalat buah jantan, sehingga lalat buah jantan dari jarak 20 - 10 m akan teratrik masuk perangkap.Mekanisme kerja metilat Aroma yang ada dalam kandungan Metilat ini akan berfungsi sebagai sex feromon.  Zat inilah yang akan merangsang lalat buah jantan melakukan aksinya yaitu kawin, sehingga lalat buah jantan akan terperangkap dalam botol air mineral (atau tempat lain yang digunakan) dan mati.  Otomatis tidak akan terjadi perkawinan dilapangan sehingga lalat buah tidak bisa berkembang biak
5.2 Saran
Pada saat melakukan pemasangan perangkap sebaiknya di letakkan di tempat yang strategis agar lebih efisien, dan saat melakukan pengamatan haruslah lebih memahami hama apa saja yang terperangkap.






                                                         DAFTAR PUSTAKA              
Eko S., Komcinta., 2010.,perangkap hama yellow trap.,   http://komunitascintatanaman.blogspot.co.id/2010/05/perangkap-serangga-yellow-trap.html., diakses pada tanggal 2 april 2016
Oky B., 2015.,Pemanfaatan Perangkap Kuning Untuk Memantau Perkerbangan Populasi Hama., http://okybrilian.web.unej.ac.id/2015/11/10/pemanfaatan-perangkap-kuning-untuk-memantau-perkembangan-populasi-hama/., diakses pada tanggal 2 april 2016
Cucu E.,2015., Laporan Praktikum Pengolahan Hama Terpadu “Perangkap Lalat Buah”.,https://www.academia.edu/10885828/Laporan_praktikum_Perangkap_lalat_Buah., diakses pada tanggal 2 april 2016